MADYAPADMA JOURNALISTIC PARK

Kamis, 14 Agustus 2014


Madyapadma? Ada yang gak tau apa itu Madyapadma? Oh come on! Sebuah ekskul yang keren itu lho! Penyabet piala dan medali lomba ternama. Ekskul jurnalistik yang selama setahun belakangan dan kedepannya aku ikuti ^^

Banyak banget yang kalian ketahui tentang Madyapadma pada halaman pencarian di Google. Dan tentunya membaca semua itu pasti perlu menahan nafas lantaran kagum, percaya deh! Kenapa perlu percaya aku? Karna aku merasakannya...

Aku diterima di Trisma gak gampang. Banyak banget cobaannya. Masih inget dimana aku duduk sendirian dibangku kelas tanpa ada sosialisasi sama teman. Masih inget dimana aku seperti memakai kostum yang salah disebuah pesta, dipandang aneh. Tapi sekarang I FEEL FREE!!! *eh

I FEEL FREE-nya bukan kayak selebritas yang lagi tenar itu ding. Semenjak bergabung di Madyapadma terjadi perubahan yang aku alami. Aku dapat menjadi diriku sendiri. Pengurus Madyapadma menyambut hangat keikutsertaanku menjadi anggota Madyapadma. Kakak-kakak pengurusnya yang keren, kocak dan rasa persaudaraanya menambah kenyamananku di Trisma. Apalagi banyaknya ilmu pengetahuan dalam dunia jurnalistik yang diberikan Kak Ananta, sebagai tutor dan pembina di ekskul ini.

Pada awal-awal aku menjadi anggota Madyapadma, kita angkatan 37 Trisma mendapatkan tugas untuk menyelenggarakan acara tersohor Presslist yang ke 4! Walaupun angkatan 37 bukan panitia inti, tapi rasa bangga menjadi salah satu faktor berjalannya acara Presslist dilangsungkan dengan lancar sudah lebih dari cukup.

Ada dimana aku selama setahun merasa masa-masa kewalahan dengan tugas, pelatihan sampai dengan Presslist ke 5 dilangsungkan pada bulan Mei lalu. Tapi semua itu terbayar kok. Kita dilatih untuk menjadi terbiasa membuat hal-hal yang menantang. Dilatih untuk persiapan keperguruan tinggi. Di Madyapadma enggak selalu belajar, belajar dan belajar. Kita juga bisa refreshing dengan adanya selingingan  game yang mampu melepas penat.

Madyapadma yang memiliki banyak anggota berbakat disegala bidang, enggak membuat aku minder, malahan menjadi termotivasi untuk menjadi lebih baik. Banyaknya bidang yang digeluti Madyapadma seperti perfiliman, radio, sampai riset ilmiah justru itu membuat Madyapadma memiliki warna serta kesan beda dibanding ekskul lainnya. Madyapadma juga pernah menerbitkan sejumlah buku, bisa dilihat disini

Banyak suka cita yang aku alami di Madyapadma. Madyapadma seperti rengkuhan hangat yang dapat membuatmu aman dan nyaman didalamnya. Madyapadma seperti bagian dari diriku. Madyapadma seperti uluran tangan yang membantuku bangkit. The place for everything, and everything in Madyapadma.
Presslist 4 angkatan 35, 36, dan 37


Presslist 5 angkatan 36 & 37

Dandelion Delia #2

Jumat, 09 Mei 2014

Sebuah awal dia mengucap.
Sebuah awal dia menatap.
Sebuah awal dia tersenyum.
Sebuah awal mereka memulai.

Bella menatap Delia yang ada disebelahnya. Lalu pandangannya beralih pada teman-teman sekelasnya yang tak henti-hentinya menguap. Pelajaran Bahasa Indonesia yang diajar Pak Azam memang terkenal membosankan. Bella juga merasakan kejenuhan yang dialami teman sekelasnya, kecuali Delia. Nih anak kesambet apaan ya? Tumben-tumbenan dia bisa betah merhatiin Pak Azam batin Bella. Mulut Bella menganga melihat Delia yang mulai senyam senyum nggak jelas. Wah parah nih! Jangan-jangan Delia udah kemakan pesonanya Pak Azam? Bella sudah ngga tahan melihat tingkah laku sahabatnya itu, tangannya mengguncang bahu Delia.

"Apa sih?" Delia menatap Bella tak senang, merasa terganggu.
"Lo kenapa? Barusan senyam senyum gak jelas. Sekarang malah galak gitu" alis Bella mengkerut.
Wajah garang Delia berubah menjadi cengengesan "Nope"
Jari telunjuk Bella menuding tepat didepan hidung mancung Delia "Jangan bilang lo naksir Pak Azam!"
Delia membulatkan bibirnya, lalu menepis pelan tangan Bella "Ngaco lo"
"So, kenapa hari ini lo aneh?"

Delia kembali mengenang kejadian tadi pagi dikoridor kelasnya. Rasanya seperti disurga ketika Percy memanggil namanya dan tersenyum pula! Senyumnya mengembang Apa ini awal untuk kita, Tuhan?
Bella yang menyadari pertanyaannya ngga akan dijawab, hanya geleng-geleng kepala melihat Delia.
***
Kantin penuh dengan manusia-manusia lapar yang perutnya perlu diisi makanan. Mereka berdesakan, berusaha menjaga agar makanan yang dibawa tidak mengotori seragam orang lain. Delia dan Bella sedang menikmati hidangan mereka. Ralat, Delia hanya mengaduk-aduk pentol bakso dengan sendok, matanya bergerak liar menelusuri kepadatan kantin sekolahnya. Mencari sosok jangkung, bermata sipit tajam, beraroma manis, yang tadi sempat memanggil namanya, yup Percy. Mata Delia berkedip lebih cepat, berusaha memastikan cowok yang sedang duduk dibangku dekat pintu keluar bersama teman-temannya itu adalah Percy.

Jantung Delia berdegup cepat, ditariknya lengan Bella tanpa persetujuan terlebih dahulu. Bella yang tak tahu menau hanya mengikuti perlakuan Delia. 2 meter dari tempat Percy, Delia memperlambat langkahnya. Telapak tangan Delia sudah mulai berkeringat, gugup. 1 meter, Delia hampir mati menahan nafas. 0,5 meter, mata Percy menangkap sosok mungil Delia tetapi hanya sesaat, kemudian matanya berpaling lagi kearah teman-temannya. Delia dan Bella sudah melewati Percy dkk, hati Delia mencelos. Bukannya dia ngeliat gue? Percy ngeliat gue kan? Kenapa tanpa sapaan? Minimal senyuman? langkahnya terhenti, begitu juga dengan Bella. Kebingungan Bella bertambah sewaktu melihat wajah kaku Delia. Kenapa lagi ni anak? tanyanya dalam hati.Delia menempelkan tangannya didada kiri. Apa tadi pagi itu hanya khayalan? Apa dia memang ngga mau kenal gue? Tuhan, ini bukan awal tapi khayal.

to be continued

Dandelion Delia #1

Kamis, 08 Mei 2014

Dia mengintip. Memperhatikan gerakan tangan itu menekan tuts-tuts piano.
Dia menguping. Mendengar alunan nada indah.
Dia bersembunyi. Menghindar agar tak terlihat objek yang ia pandangi.

Delia sudah hampir satu jam mengintip dibalik jendela ruang musik sekolahnya. Dia tidak sedang melakukan misi, seperti detektif Conan. Dia tidak sedang mengintai barang berharga untuk dicuri. Dia hanya melihat cowok itu. Melihat secara diam-diam tentunya. Cowok yang akhir-akhir ini menghantui pikiran dan mimpinya. Pierce Sebastian, atau yang sering disapa Percy adalah cowok yang sekarang menjadi objek penglihatan mata Delia. Delia yang sudah jatuh cinta sebulan yang lalu ketika melihat Percy bermain piano saat pentas seni sekolahnya, nekat untuk mengintip Percy latihan setiap hari Selasa.

Belum bosan dengan keterpanaannya, Delia gelagapan ketika melihat badan tinggi Percy beranjak meninggalkan ruang musik. Dengan langkah tersandung, Delia bersembunyi dibalik lorong antara kelas dan ruang musik. Telinga Delia dapat mendengar bunyi pintu yang tertutup dan disusul suara langkah kaki yang menjauh. Delia menempelkan telapak tangan kanan didada sebelah kirinya. "Hhft.." desah Delia ketika merasakan debaran jantungnya yang telah kembali normal.

***
Rabu pagi yang cerah disambut ceria oleh cewek berambut hitam panjang. Delia melangkahkan kakinya mantap menuju kelasnya di XI IPA 1. Sejak sebulan ini Delia memang mempunyai penyemangat sekolahnya, siapa lagi kalau bukan Percy. Delia sadar, apa yang ia lakukan seperti seorang stalker tidaklah membuat mata sipit Percy yang tajam itu meliriknya. Tetapi ketika hati menuntut, otak pun tak bisa membantah. Langkahnya terhenti ketika melihat Percy keluar dari toilet laki-laki. Jantungnya berdegup semakin kencang ketika Percy berlari kecil melewatinya. Delia menutup matanya, tercium aroma parfum manis Percy yang sudah Delia hafal. Hidungnya masih ingin menghirup aroma itu, walaupun paru-parunya sudah terisi penuh. 

"Uhuk uhuk" Delia terbatuk ketika pundak kirinya ditepuk seseorang secara tiba-tiba. Badan Delia sedikit membungkuk menghentikan batuk yang melandanya.
"Lo engga apa-apa?" tanya sebuah suara yang Delia sangat-sangat dambakan. Percy's voice!
"UHUK.." batuk Delia bertambah parah, saking kagetnya dengan suara Percy. Kini tangan Percy menepuk pelan punggung Delia, mencoba mengurangi kadar batuk Delia. Setelah batuk yang tak diundang itu pergi, Delia dengan jantung berdegup lebih kencang, membalikkan badan menghadap Percy. Matanya hanya bisa menangkap dada bidang Percy, karena Delia lebih pendek dibandingkan Percy. Ia mundur selangkah agar dapat menatap wajah tampan Percy.
"Ini punya lo kan?" Percy mengulurkan telapak tangan yang berisi gantungan tas Delia.
"Oh! Iya" Delia mengambil gantungannya dengan gugup.
"Lain kali hati-hati ya--" mata sipit Percy semakin tak terlihat ketika melihat name tag yang ada di seragam Delia "...hm, Delia" ujarnya sambil tersenyum.
Delia terpaku. WHAT? Demi apa? Dia nyebut nama gue? Belum sempat Delia mengucapkan terima kasih, Percy berbalik meninggalkan Delia dengan keterkejutannya.

to be continued

Is That True?

Senin, 05 Mei 2014

Kita berteman
Diluar perkenalan, tanpa sapaan
Kita pernah bersama
Tanpa hubungan, disatu ruangan, menghirup udara yang sama
Kita berdekatan
Menghabiskan waktu berjarak langkah kaki

Aku menangkap jelas kemana matamu melihat
Aku merasakan getaran suaramu saat berusaha menyebut namaku
Aku memperhatikan tingkahmu saat kita berdekatan
Aku menikmati bahu kita yang tak sengaja bergesekan
Aku melihat bagaimana kulitmu bereaksi ketika temanmu menggodamu

Aku tidak tahu apa itu semua nyata
Aku tidak tahu apa yang aku rasakan sama seperti yang kau kehendaki
Aku tidak tahu apa itu yang dinamakan khayalan
Aku tidak tahu seberapa besar rasa imajinasiku
Aku tidak tahu cara membedakan fakta dan khayalan
Aku tidak tahu mengapa imajinasi ini begitu liar
Aku tidak tahu seberapa besar rasa percaya diriku

Benarkah matamu sering mencari keberadaanku?
Benarkah kamu gugup saat memanggilku?
Benarkah kamu sebegitu bodohnya untuk menormalkan tingkahmu?
Benarkah gesekan bahu kita itu secara tidak sengaja?

Apa itu keadilan?

Selasa, 22 April 2014

"Tuhan itu adil"
"Tidak ada yang sempurna"

Sesering apa gendang telinga kalian menerima respond dari kata-kata tersebut? Jarang, sering, atau sering banget? Apa kalian bisa jelaskan maksud dari kata-kata itu? Jangan bilang bahwa setiap manusia punya kekurangan dan kelebihan, maka dari itu yang disebut keadilan. ENOUGH, aku juga sering denger itu.

Coba bayangkan, seorang model cantik dengan tubuh langsing tak ada cacat disetiap kulit mulusnya, memiliki kehidupan yang berkecukupan, orangtua yang selalu harmonis, dan teman-teman yang setia menemaninya. Namun, hanya kepribadiannya menjadi masalah. Pemarah dan high class. Eh, apa kepribadiannya bisa dibilang "masalah" ? Atau "masalah" itu yang dinamakan kekurangan? Namun, kekurangannya tetap membuat model itu mempunyai banyak teman, dan kehidupan yang baik. Itukah yang dinamakan adil?

Coba bayangkan lagi, seorang siswi bertubuh over-weight, memiliki wajah buruk rupa, kehidupan yang melarat dengan orangtua yang buruk, dan dilecehkan teman-temannya. Namun ia memiliki kepribadian sopan, ramah, baik, dan tegar. Apakah kepribadiannya itu yang disebut kelebihan? Uh, malang.

You hate you get

Di dunia banyak berisi sesuatu yang kita nggak suka. Bahkan makhluk yang berbagi udara dengan kita juga bisa dibenci. Haters yang belum mengenal sosok artis yang dibencinya pun berapi-api untuk menjelek-jelekkan artis itu.

Nah, bagaimana jika sesuatu yang kita benci itu malah menjadi salah satu kewajiban kita? Sungguh menyebalkan, bukan? Salah satu temanku pernah berkata "Belum tentu yang kita enggak suka akan berdampak buruk bagi kita. Contohnya obat. Jika obat itu dapat menyembuhkan penyakitmu, se-pahit apapun itu akan berguna untukmu"

Jawaban yang bijak itu belum dapat merubah pikiranku tentang sesuatu yang aku benci. Apa kamu bertanya apa sih yang sebenarnya aku benci? Jika iya, sulit untukku mengemukakannya. Sesuatu itu sangat bertolak belakang dengan watakku. Sesuatu itu mengganggu ketenangan, merusak mood, membuat kepala seakan terpecah. Argghhhh!!!!! Mendeskripsikannya pun sudah membuat jari-jariku hampir menjebol keyboard laptopku.

Sesuatu yang dibenci tapi kewajiban
Kewajiban yang menuntut perubahan
Perubahan yang berbanding terbalik
Berbanding terbalik dengan apa yang kita inginkan
Menginginkan sesuatu yag dapat membuat kita nyaman
Kenyamanan yang tidak terdapat pada sesuatu itu
Sesuatu itu harus musnah
Musnah tak akan kembali dikehidupan