Dandelion Delia #2

Jumat, 09 Mei 2014

Sebuah awal dia mengucap.
Sebuah awal dia menatap.
Sebuah awal dia tersenyum.
Sebuah awal mereka memulai.

Bella menatap Delia yang ada disebelahnya. Lalu pandangannya beralih pada teman-teman sekelasnya yang tak henti-hentinya menguap. Pelajaran Bahasa Indonesia yang diajar Pak Azam memang terkenal membosankan. Bella juga merasakan kejenuhan yang dialami teman sekelasnya, kecuali Delia. Nih anak kesambet apaan ya? Tumben-tumbenan dia bisa betah merhatiin Pak Azam batin Bella. Mulut Bella menganga melihat Delia yang mulai senyam senyum nggak jelas. Wah parah nih! Jangan-jangan Delia udah kemakan pesonanya Pak Azam? Bella sudah ngga tahan melihat tingkah laku sahabatnya itu, tangannya mengguncang bahu Delia.

"Apa sih?" Delia menatap Bella tak senang, merasa terganggu.
"Lo kenapa? Barusan senyam senyum gak jelas. Sekarang malah galak gitu" alis Bella mengkerut.
Wajah garang Delia berubah menjadi cengengesan "Nope"
Jari telunjuk Bella menuding tepat didepan hidung mancung Delia "Jangan bilang lo naksir Pak Azam!"
Delia membulatkan bibirnya, lalu menepis pelan tangan Bella "Ngaco lo"
"So, kenapa hari ini lo aneh?"

Delia kembali mengenang kejadian tadi pagi dikoridor kelasnya. Rasanya seperti disurga ketika Percy memanggil namanya dan tersenyum pula! Senyumnya mengembang Apa ini awal untuk kita, Tuhan?
Bella yang menyadari pertanyaannya ngga akan dijawab, hanya geleng-geleng kepala melihat Delia.
***
Kantin penuh dengan manusia-manusia lapar yang perutnya perlu diisi makanan. Mereka berdesakan, berusaha menjaga agar makanan yang dibawa tidak mengotori seragam orang lain. Delia dan Bella sedang menikmati hidangan mereka. Ralat, Delia hanya mengaduk-aduk pentol bakso dengan sendok, matanya bergerak liar menelusuri kepadatan kantin sekolahnya. Mencari sosok jangkung, bermata sipit tajam, beraroma manis, yang tadi sempat memanggil namanya, yup Percy. Mata Delia berkedip lebih cepat, berusaha memastikan cowok yang sedang duduk dibangku dekat pintu keluar bersama teman-temannya itu adalah Percy.

Jantung Delia berdegup cepat, ditariknya lengan Bella tanpa persetujuan terlebih dahulu. Bella yang tak tahu menau hanya mengikuti perlakuan Delia. 2 meter dari tempat Percy, Delia memperlambat langkahnya. Telapak tangan Delia sudah mulai berkeringat, gugup. 1 meter, Delia hampir mati menahan nafas. 0,5 meter, mata Percy menangkap sosok mungil Delia tetapi hanya sesaat, kemudian matanya berpaling lagi kearah teman-temannya. Delia dan Bella sudah melewati Percy dkk, hati Delia mencelos. Bukannya dia ngeliat gue? Percy ngeliat gue kan? Kenapa tanpa sapaan? Minimal senyuman? langkahnya terhenti, begitu juga dengan Bella. Kebingungan Bella bertambah sewaktu melihat wajah kaku Delia. Kenapa lagi ni anak? tanyanya dalam hati.Delia menempelkan tangannya didada kiri. Apa tadi pagi itu hanya khayalan? Apa dia memang ngga mau kenal gue? Tuhan, ini bukan awal tapi khayal.

to be continued

Dandelion Delia #1

Kamis, 08 Mei 2014

Dia mengintip. Memperhatikan gerakan tangan itu menekan tuts-tuts piano.
Dia menguping. Mendengar alunan nada indah.
Dia bersembunyi. Menghindar agar tak terlihat objek yang ia pandangi.

Delia sudah hampir satu jam mengintip dibalik jendela ruang musik sekolahnya. Dia tidak sedang melakukan misi, seperti detektif Conan. Dia tidak sedang mengintai barang berharga untuk dicuri. Dia hanya melihat cowok itu. Melihat secara diam-diam tentunya. Cowok yang akhir-akhir ini menghantui pikiran dan mimpinya. Pierce Sebastian, atau yang sering disapa Percy adalah cowok yang sekarang menjadi objek penglihatan mata Delia. Delia yang sudah jatuh cinta sebulan yang lalu ketika melihat Percy bermain piano saat pentas seni sekolahnya, nekat untuk mengintip Percy latihan setiap hari Selasa.

Belum bosan dengan keterpanaannya, Delia gelagapan ketika melihat badan tinggi Percy beranjak meninggalkan ruang musik. Dengan langkah tersandung, Delia bersembunyi dibalik lorong antara kelas dan ruang musik. Telinga Delia dapat mendengar bunyi pintu yang tertutup dan disusul suara langkah kaki yang menjauh. Delia menempelkan telapak tangan kanan didada sebelah kirinya. "Hhft.." desah Delia ketika merasakan debaran jantungnya yang telah kembali normal.

***
Rabu pagi yang cerah disambut ceria oleh cewek berambut hitam panjang. Delia melangkahkan kakinya mantap menuju kelasnya di XI IPA 1. Sejak sebulan ini Delia memang mempunyai penyemangat sekolahnya, siapa lagi kalau bukan Percy. Delia sadar, apa yang ia lakukan seperti seorang stalker tidaklah membuat mata sipit Percy yang tajam itu meliriknya. Tetapi ketika hati menuntut, otak pun tak bisa membantah. Langkahnya terhenti ketika melihat Percy keluar dari toilet laki-laki. Jantungnya berdegup semakin kencang ketika Percy berlari kecil melewatinya. Delia menutup matanya, tercium aroma parfum manis Percy yang sudah Delia hafal. Hidungnya masih ingin menghirup aroma itu, walaupun paru-parunya sudah terisi penuh. 

"Uhuk uhuk" Delia terbatuk ketika pundak kirinya ditepuk seseorang secara tiba-tiba. Badan Delia sedikit membungkuk menghentikan batuk yang melandanya.
"Lo engga apa-apa?" tanya sebuah suara yang Delia sangat-sangat dambakan. Percy's voice!
"UHUK.." batuk Delia bertambah parah, saking kagetnya dengan suara Percy. Kini tangan Percy menepuk pelan punggung Delia, mencoba mengurangi kadar batuk Delia. Setelah batuk yang tak diundang itu pergi, Delia dengan jantung berdegup lebih kencang, membalikkan badan menghadap Percy. Matanya hanya bisa menangkap dada bidang Percy, karena Delia lebih pendek dibandingkan Percy. Ia mundur selangkah agar dapat menatap wajah tampan Percy.
"Ini punya lo kan?" Percy mengulurkan telapak tangan yang berisi gantungan tas Delia.
"Oh! Iya" Delia mengambil gantungannya dengan gugup.
"Lain kali hati-hati ya--" mata sipit Percy semakin tak terlihat ketika melihat name tag yang ada di seragam Delia "...hm, Delia" ujarnya sambil tersenyum.
Delia terpaku. WHAT? Demi apa? Dia nyebut nama gue? Belum sempat Delia mengucapkan terima kasih, Percy berbalik meninggalkan Delia dengan keterkejutannya.

to be continued

Is That True?

Senin, 05 Mei 2014

Kita berteman
Diluar perkenalan, tanpa sapaan
Kita pernah bersama
Tanpa hubungan, disatu ruangan, menghirup udara yang sama
Kita berdekatan
Menghabiskan waktu berjarak langkah kaki

Aku menangkap jelas kemana matamu melihat
Aku merasakan getaran suaramu saat berusaha menyebut namaku
Aku memperhatikan tingkahmu saat kita berdekatan
Aku menikmati bahu kita yang tak sengaja bergesekan
Aku melihat bagaimana kulitmu bereaksi ketika temanmu menggodamu

Aku tidak tahu apa itu semua nyata
Aku tidak tahu apa yang aku rasakan sama seperti yang kau kehendaki
Aku tidak tahu apa itu yang dinamakan khayalan
Aku tidak tahu seberapa besar rasa imajinasiku
Aku tidak tahu cara membedakan fakta dan khayalan
Aku tidak tahu mengapa imajinasi ini begitu liar
Aku tidak tahu seberapa besar rasa percaya diriku

Benarkah matamu sering mencari keberadaanku?
Benarkah kamu gugup saat memanggilku?
Benarkah kamu sebegitu bodohnya untuk menormalkan tingkahmu?
Benarkah gesekan bahu kita itu secara tidak sengaja?