Dia menguping. Mendengar alunan nada indah.
Dia bersembunyi. Menghindar agar tak terlihat objek yang ia pandangi.
Delia sudah hampir satu jam mengintip dibalik jendela ruang musik sekolahnya. Dia tidak sedang melakukan misi, seperti detektif Conan. Dia tidak sedang mengintai barang berharga untuk dicuri. Dia hanya melihat cowok itu. Melihat secara diam-diam tentunya. Cowok yang akhir-akhir ini menghantui pikiran dan mimpinya. Pierce Sebastian, atau yang sering disapa Percy adalah cowok yang sekarang menjadi objek penglihatan mata Delia. Delia yang sudah jatuh cinta sebulan yang lalu ketika melihat Percy bermain piano saat pentas seni sekolahnya, nekat untuk mengintip Percy latihan setiap hari Selasa.
Belum bosan dengan keterpanaannya, Delia gelagapan ketika melihat badan tinggi Percy beranjak meninggalkan ruang musik. Dengan langkah tersandung, Delia bersembunyi dibalik lorong antara kelas dan ruang musik. Telinga Delia dapat mendengar bunyi pintu yang tertutup dan disusul suara langkah kaki yang menjauh. Delia menempelkan telapak tangan kanan didada sebelah kirinya. "Hhft.." desah Delia ketika merasakan debaran jantungnya yang telah kembali normal.
***
Rabu pagi yang cerah disambut ceria oleh cewek berambut hitam panjang. Delia melangkahkan kakinya mantap menuju kelasnya di XI IPA 1. Sejak sebulan ini Delia memang mempunyai penyemangat sekolahnya, siapa lagi kalau bukan Percy. Delia sadar, apa yang ia lakukan seperti seorang stalker tidaklah membuat mata sipit Percy yang tajam itu meliriknya. Tetapi ketika hati menuntut, otak pun tak bisa membantah. Langkahnya terhenti ketika melihat Percy keluar dari toilet laki-laki. Jantungnya berdegup semakin kencang ketika Percy berlari kecil melewatinya. Delia menutup matanya, tercium aroma parfum manis Percy yang sudah Delia hafal. Hidungnya masih ingin menghirup aroma itu, walaupun paru-parunya sudah terisi penuh.
"Uhuk uhuk" Delia terbatuk ketika pundak kirinya ditepuk seseorang secara tiba-tiba. Badan Delia sedikit membungkuk menghentikan batuk yang melandanya.
"Lo engga apa-apa?" tanya sebuah suara yang Delia sangat-sangat dambakan. Percy's voice!
"UHUK.." batuk Delia bertambah parah, saking kagetnya dengan suara Percy. Kini tangan Percy menepuk pelan punggung Delia, mencoba mengurangi kadar batuk Delia. Setelah batuk yang tak diundang itu pergi, Delia dengan jantung berdegup lebih kencang, membalikkan badan menghadap Percy. Matanya hanya bisa menangkap dada bidang Percy, karena Delia lebih pendek dibandingkan Percy. Ia mundur selangkah agar dapat menatap wajah tampan Percy.
"Ini punya lo kan?" Percy mengulurkan telapak tangan yang berisi gantungan tas Delia.
"Oh! Iya" Delia mengambil gantungannya dengan gugup.
"Lain kali hati-hati ya--" mata sipit Percy semakin tak terlihat ketika melihat name tag yang ada di seragam Delia "...hm, Delia" ujarnya sambil tersenyum.
Delia terpaku. WHAT? Demi apa? Dia nyebut nama gue? Belum sempat Delia mengucapkan terima kasih, Percy berbalik meninggalkan Delia dengan keterkejutannya.
to be continued
0 komentar:
Posting Komentar