Sebuah awal dia mengucap.
Sebuah awal dia menatap.
Sebuah awal dia tersenyum.
Sebuah awal mereka memulai.
Bella menatap Delia yang ada disebelahnya. Lalu pandangannya beralih pada teman-teman sekelasnya yang tak henti-hentinya menguap. Pelajaran Bahasa Indonesia yang diajar Pak Azam memang terkenal membosankan. Bella juga merasakan kejenuhan yang dialami teman sekelasnya, kecuali Delia. Nih anak kesambet apaan ya? Tumben-tumbenan dia bisa betah merhatiin Pak Azam batin Bella. Mulut Bella menganga melihat Delia yang mulai senyam senyum nggak jelas. Wah parah nih! Jangan-jangan Delia udah kemakan pesonanya Pak Azam? Bella sudah ngga tahan melihat tingkah laku sahabatnya itu, tangannya mengguncang bahu Delia.
"Apa sih?" Delia menatap Bella tak senang, merasa terganggu.
"Lo kenapa? Barusan senyam senyum gak jelas. Sekarang malah galak gitu" alis Bella mengkerut.
Wajah garang Delia berubah menjadi cengengesan "Nope"
Jari telunjuk Bella menuding tepat didepan hidung mancung Delia "Jangan bilang lo naksir Pak Azam!"
Delia membulatkan bibirnya, lalu menepis pelan tangan Bella "Ngaco lo"
"So, kenapa hari ini lo aneh?"
Delia kembali mengenang kejadian tadi pagi dikoridor kelasnya. Rasanya seperti disurga ketika Percy memanggil namanya dan tersenyum pula! Senyumnya mengembang Apa ini awal untuk kita, Tuhan?
Bella yang menyadari pertanyaannya ngga akan dijawab, hanya geleng-geleng kepala melihat Delia.
***
Kantin penuh dengan manusia-manusia lapar yang perutnya perlu diisi makanan. Mereka berdesakan, berusaha menjaga agar makanan yang dibawa tidak mengotori seragam orang lain. Delia dan Bella sedang menikmati hidangan mereka. Ralat, Delia hanya mengaduk-aduk pentol bakso dengan sendok, matanya bergerak liar menelusuri kepadatan kantin sekolahnya. Mencari sosok jangkung, bermata sipit tajam, beraroma manis, yang tadi sempat memanggil namanya, yup Percy. Mata Delia berkedip lebih cepat, berusaha memastikan cowok yang sedang duduk dibangku dekat pintu keluar bersama teman-temannya itu adalah Percy.
Jantung Delia berdegup cepat, ditariknya lengan Bella tanpa persetujuan terlebih dahulu. Bella yang tak tahu menau hanya mengikuti perlakuan Delia. 2 meter dari tempat Percy, Delia memperlambat langkahnya. Telapak tangan Delia sudah mulai berkeringat, gugup. 1 meter, Delia hampir mati menahan nafas. 0,5 meter, mata Percy menangkap sosok mungil Delia tetapi hanya sesaat, kemudian matanya berpaling lagi kearah teman-temannya. Delia dan Bella sudah melewati Percy dkk, hati Delia mencelos. Bukannya dia ngeliat gue? Percy ngeliat gue kan? Kenapa tanpa sapaan? Minimal senyuman? langkahnya terhenti, begitu juga dengan Bella. Kebingungan Bella bertambah sewaktu melihat wajah kaku Delia. Kenapa lagi ni anak? tanyanya dalam hati.Delia menempelkan tangannya didada kiri. Apa tadi pagi itu hanya khayalan? Apa dia memang ngga mau kenal gue? Tuhan, ini bukan awal tapi khayal.
to be continued