My Dream

Kamis, 24 Oktober 2013

Pukul 10:49 WITA blog ini secara resmi dibuka *jengjeng*
yah, ini sih blog ke-3. Tapi, karna ke-2 blog tersebut telah dilahap waktu ya kita tinggalkan sajalah.
hmm... untuk merayakan hari lahirnya blog ini, aku bakal nge-post sebuah cerpen. ini cerpen udah pernah masuk koran wiyata mandala, tapi aku post aja deh...
cekidot...


“Apakah kamu mau jadi pacarku?” tanyanya dengan tatapan penuh arti. “Aku mau” jawabku.
Kriiiinngkriiingkriing….
Tiba-tiba suara jam weker berbentuk gitar itu membangunkanku. Aarghh,tenyata hanya mimpi.Mengapa aku bisa memimpikan Dika,cowok paling populer disekolah, menembakku? Itu mustahil !!! Oh iya, jam berapa ini? Jam 06.30 !!! Aku kesiangan!!! Segera aku mandi dan mempersiapkan diriku untuk pergi kesekolah,dengan motor skuter berwarna putih,aku menuju Friendship Elementary School. Aku memang tidak pantas untuk bersekolah di SMA itu, aku bagaikan rumput liar diantara bunga-bunga yang cantik.Kalau tidak mengandalkan beasiswa, aku tidak akan dapat bersekolah disana.
Sesampainya disekolahku itu, pintu gerbang megah yang berwarna putih telah tertutup rapat. Aku memohon kepada petugas satpam agar aku diberikan kesempatan untuk diberi masuk, tetapi ia tidak menghiraukan permohonanku itu. Ketika aku membalikkan badan, tiba-tiba sesosok lelaki tinggi,gagah,keren,tampan berada tepat dihadapanku, itu Dika !!! “Pak, tolong buka pintu gerbang dan parkirkan motor gadis ini!” perintahnya kepada petugas satpam. Pintu gerbangpun dibuka, hal itu tidak mengherankan lagi, sebab Dika adalah cucu pemilik sekolah ini. “Ayo masuk !” ajaknya sambil menarik tanganku. Astaga, detak jantungku semakin cepat. “Hey,namamu siapa? Kelasmu dimana?” Tanya Dika sambil memberikan senyum manisnya.Dengan terbata-bata,aku memberanikan diri untuk menjawab pertanyaannya “A.. aku Ashley. Kelasku XII-I. Terima kasih telah membantuku, aku harus segera kekelas” lalu aku pergi meninggalkannya.
Saat istirahat, aku murid yang ‘kutu buku’ ini di suruh untuk membawakan buku-buku pelajaran yang tersisa ke perpustakaan. Buku-buku ini sangat berat, “Hey,mau aku bantu?” suara lembut yang aku rasa pernah mendengarkannya, menawarkan bantuan. Ah, dia Dika !!! “Um.. tidak perlu. Mengapa kamu ada disini?” jawabku. “Apakah aku tidak boleh berada disini?” “Eh,bukannya begitu, tapi, hmm.. anu..” “Haha, ayo kita ke perpustakaan !” sambil membawakan buku-buku. Di setiap langkah kami, banyak murid perempuan memandangku dengan tatapan yang sinis. Aku jadi merasa tidak tahu malu berada disamping Dika.
Sore hari ini, aku termenung di depan jendela kamarku. Meratapi nasib yang telah diberikan untukku. Sambil melihat cahaya redup senja menyinari awan di langit yang jingga. Pikiranku menuju seseorang yang ku kagumi, Dika. Setiap saat aku selalu memperhatikannya, walaupun dari jauh. Teringat akan semua kejadian yang ku lalui dengannya hari ini di sekolah. ‘tring..tring..’ nada message di HP ku berbunyi. Segera aku mengambil HP berwarna hitam yang terlihat jadul itu.
“hey Ashley,aku Dika.Masihkah kau ingat aku?Sedang apa?”
Dika??? Dari mana ia tahu nomerku??? Mana mungkin aku bisa melupakannya!!! Kembali aku sadar akan status sosial antara kita, aku harus tahu diri, bagaikan langit dan bumi. Aku akan mencoba untuk tak mengharapkannya lagi.
Udara pagi yang menyejukkan, sinar mentari memasuki kamarku melalui celah jendela. Embun di helai daun dan kicauan burung nampak memberikan semangat baru di hari ini. Kini,aku siap berangkat sekolah. Saat aku melewati koridor untuk memasuki kelas, aku tak melihat ada sepasang kaki sengaja menghalangi jalanku, dan akupun terjatuh. “Hahaha… dasar cupu !!!” suara tawa dan ejekan dari seseorang terdengar, ternyata itu Rio. Aku hanya bisa tersungkur dan menahan sakit di kakiku ini. “Ash, kau tidak apa-apa?” tanya Dika sambil membantuku untuk berdiri. “Aku tidak apa-apa” jawabku. “Dasar pecundang !!! Beraninya dengan perempuan saja. Pergi kau,dan jangan pernah menyakitinya lagi!” bentak Dika kepada Rio. Rio pergi meninggalkan kami berdua. “Kita harus ke UKS untuk mengobati lukamu, ayo..!” “Ti…tidak perlu, aku bisa sendiri. Aku mohon, jangan membantuku lagi. Terima kasih” tanpa menunggu jawaban darinya, aku pergi.
Hari selasa, hari sial bagiku. Pagi-pagi jam 04.00 aku udah bangun, mempersiapkan diri dan sarapan sampai jam 06.00 . Sekarang saatnya untuk berangkat sekolah. Udara masih dingin seolah-olah menggigit kulitku. Jalanan masih sepi, mungkin orang-orang pada malas untuk bangun dari tempat tidurnya yang empuk. Saat di pertengahan jalan menuju ke sekolah, sepertinya tidak ada yang beres dengan ban belakang sepeda motorku. Arrgh, ternyata memang benar hari selasa hari sial, ban ku pecah !!! Jam arlojiku menunjukkan pukul 06.10, mana mungkin ada tukang tambal ban, disekitar sini. Kalau aku pulang kerumah, bisa-bisa telat sekolah, kalau jalan ke sekolah motorku ditaruh dimana ? “Tiiin..tiiin” bunyi klakson mobil sport berwarna merah metallic dan pengemudinya yang terlihat cool memakai kaca mata hitam itu berhenti tepat di belakangku. Ia turun dan melepas kaca matanya itu, sekarang terlihat matanya yang kecil ditambah alis tebal dan rambut sedikit ikal itu ternyata Dika. Tatapannya yang tajam dihiasi seyum tipis di bibirnya itu membuat hatiku berdetak cepat. “Ban mu bocor kan? Aku antar kamu kesekolah ya?” “Enggak usah, biar aku jalan ke sekolah saja” tolakku. “Oke, aku ikut jalan denganmu ya?” aku tidak memberikannya jawaban dan langsung berjalan menuntun motorku. “Sudah.. sini aku yang bawa” lalu motorku dituntun olehnya “Makasih” jawabku singkat.
          Kulihat ia menelpon seseorang, sepertinya ia menyuruh orang itu mengurus mobilnya dijalan. Di perjalanan, hanya langkah kaki kami saja yang bersuara. “Ash..” katanya lirih, hamper tidak terdengar. “Apa..?” “Kenapa akhir-akhir ini kamu menghindar dariku?” “Ehm.. mungkin hanya perasaanmu saja” dustaku kepadanya. “Tidak. Aku yakin ini bukan perasaanku. Apa aku melakukan kesalahan?” jawabannya sambil menatapku. Aku hanya terdiam dan menundukkan kepalaku. “Baiklah jika kamu tidak ingin menjawab. Tapi kamu harus tau, bahwa aku cinta kamu Ash..” Deeg.. ! Serasa darah ini berhenti mengalir, detak jantungku mendadak terhambat sesuatu. ‘Aku juga cinta kamu’ jawabku dalam hati. “Apa kamu tidak mencintaiku? Jawab Ashley..” tanyanya lalu memegang tanganku. Tatapanku menuju pada tanah yang kupijaki ini. “Aku juga mencintaimu, Dika” dengan susah payah aku menjawab pertanyaannya itu. Dika nampaknya tersenyum lega.
          Sejak hari,menit,detik itu menjadi hari yang sangat membahagiakan. Ternyata mimpi itu menjadi kenyataan…

Aku hanya manusia yang tak sempuirna

Yang aku butuhkan kejujuranmu, bukan permainan
Aku sedia mencintai dan dicintai olehmu
Aku tak bisa memberikan barang berharga
Tapi aku akan memberikan ketulusanku untukmu

0 komentar:

Posting Komentar