Prince Charming

Rabu, 11 November 2015

I feel the emptiness everytime before I met you
But now, I wake up with passion just to see you
No morning I passed without catching your glimpse in my peripherals
Am I too crazy about you being my new obsession now?
You're like heaven in every fairytales
You're Prince Charming, and I'll be your Frog.
Xoxo

Hallo! Wie geht es dir?

Sabtu, 10 Oktober 2015

Hey hey!!! Udah lama banget nih ngga nge-blog 😂 kalian nanya alasannya? Hmmm...
1. Udah kelas 3 SMA
2. Banyak tugas
3. Ga ada ide
4. Males
5. Males
6. Males
7. Dst

Nah, jadi kesimpulannya emang gue males buka blog lagi #hajar wahahah 😂 Abis, gue bingung mau nulis apa. Kalo masalah #cerbung Dandelion Delia, gue masih mikir-mikir kelanjutannya kayak apa. Enaknya gimana ya? :p
So guys, gue ngomong random aja di postingan kali ini yah #maafkansaya.

Jadi gue lagi belajar bahasa Jerman, baru level dasar sih tapi ya lumayan buat basa-basi sama bule Jerman <--- #kepengencowobule 😂😂😂 alasan pertama buat belajar bahasa Jerman gara-gara sertifikatnya. So? Ya jadi, kalo gue udh dapet sertifikat, barangkali bisa gue cantumkan di jalur SNMPTN 2016 ini. Coba-coba berhadiah laah ceritanya.

Ohya, rencananya gue mau bikin review novel terjemahan nih. Genrenya sih kebanyakan yang YA (Young Adult), Romance, Sci-Fic, sampai yang Adult WAHAHAHA. Novel pertama yang gue nau review itu Hush, Hush. Yang setuju siapa hayo?? Comment ya kalo setuju😉

Hmm well, apa lagi ya? Gue bingung mau ngomong apa-_- yaudah deh, sampe di sini dulu aja kali ya. Tunggu postingan gue selanjutnya ;) Auf Wiedersehen!

#FYI gue nge-blog lewat hp, so sorry kalau tulisan berantakan😙

MADYAPADMA JOURNALISTIC PARK

Kamis, 14 Agustus 2014


Madyapadma? Ada yang gak tau apa itu Madyapadma? Oh come on! Sebuah ekskul yang keren itu lho! Penyabet piala dan medali lomba ternama. Ekskul jurnalistik yang selama setahun belakangan dan kedepannya aku ikuti ^^

Banyak banget yang kalian ketahui tentang Madyapadma pada halaman pencarian di Google. Dan tentunya membaca semua itu pasti perlu menahan nafas lantaran kagum, percaya deh! Kenapa perlu percaya aku? Karna aku merasakannya...

Aku diterima di Trisma gak gampang. Banyak banget cobaannya. Masih inget dimana aku duduk sendirian dibangku kelas tanpa ada sosialisasi sama teman. Masih inget dimana aku seperti memakai kostum yang salah disebuah pesta, dipandang aneh. Tapi sekarang I FEEL FREE!!! *eh

I FEEL FREE-nya bukan kayak selebritas yang lagi tenar itu ding. Semenjak bergabung di Madyapadma terjadi perubahan yang aku alami. Aku dapat menjadi diriku sendiri. Pengurus Madyapadma menyambut hangat keikutsertaanku menjadi anggota Madyapadma. Kakak-kakak pengurusnya yang keren, kocak dan rasa persaudaraanya menambah kenyamananku di Trisma. Apalagi banyaknya ilmu pengetahuan dalam dunia jurnalistik yang diberikan Kak Ananta, sebagai tutor dan pembina di ekskul ini.

Pada awal-awal aku menjadi anggota Madyapadma, kita angkatan 37 Trisma mendapatkan tugas untuk menyelenggarakan acara tersohor Presslist yang ke 4! Walaupun angkatan 37 bukan panitia inti, tapi rasa bangga menjadi salah satu faktor berjalannya acara Presslist dilangsungkan dengan lancar sudah lebih dari cukup.

Ada dimana aku selama setahun merasa masa-masa kewalahan dengan tugas, pelatihan sampai dengan Presslist ke 5 dilangsungkan pada bulan Mei lalu. Tapi semua itu terbayar kok. Kita dilatih untuk menjadi terbiasa membuat hal-hal yang menantang. Dilatih untuk persiapan keperguruan tinggi. Di Madyapadma enggak selalu belajar, belajar dan belajar. Kita juga bisa refreshing dengan adanya selingingan  game yang mampu melepas penat.

Madyapadma yang memiliki banyak anggota berbakat disegala bidang, enggak membuat aku minder, malahan menjadi termotivasi untuk menjadi lebih baik. Banyaknya bidang yang digeluti Madyapadma seperti perfiliman, radio, sampai riset ilmiah justru itu membuat Madyapadma memiliki warna serta kesan beda dibanding ekskul lainnya. Madyapadma juga pernah menerbitkan sejumlah buku, bisa dilihat disini

Banyak suka cita yang aku alami di Madyapadma. Madyapadma seperti rengkuhan hangat yang dapat membuatmu aman dan nyaman didalamnya. Madyapadma seperti bagian dari diriku. Madyapadma seperti uluran tangan yang membantuku bangkit. The place for everything, and everything in Madyapadma.
Presslist 4 angkatan 35, 36, dan 37


Presslist 5 angkatan 36 & 37

Dandelion Delia #2

Jumat, 09 Mei 2014

Sebuah awal dia mengucap.
Sebuah awal dia menatap.
Sebuah awal dia tersenyum.
Sebuah awal mereka memulai.

Bella menatap Delia yang ada disebelahnya. Lalu pandangannya beralih pada teman-teman sekelasnya yang tak henti-hentinya menguap. Pelajaran Bahasa Indonesia yang diajar Pak Azam memang terkenal membosankan. Bella juga merasakan kejenuhan yang dialami teman sekelasnya, kecuali Delia. Nih anak kesambet apaan ya? Tumben-tumbenan dia bisa betah merhatiin Pak Azam batin Bella. Mulut Bella menganga melihat Delia yang mulai senyam senyum nggak jelas. Wah parah nih! Jangan-jangan Delia udah kemakan pesonanya Pak Azam? Bella sudah ngga tahan melihat tingkah laku sahabatnya itu, tangannya mengguncang bahu Delia.

"Apa sih?" Delia menatap Bella tak senang, merasa terganggu.
"Lo kenapa? Barusan senyam senyum gak jelas. Sekarang malah galak gitu" alis Bella mengkerut.
Wajah garang Delia berubah menjadi cengengesan "Nope"
Jari telunjuk Bella menuding tepat didepan hidung mancung Delia "Jangan bilang lo naksir Pak Azam!"
Delia membulatkan bibirnya, lalu menepis pelan tangan Bella "Ngaco lo"
"So, kenapa hari ini lo aneh?"

Delia kembali mengenang kejadian tadi pagi dikoridor kelasnya. Rasanya seperti disurga ketika Percy memanggil namanya dan tersenyum pula! Senyumnya mengembang Apa ini awal untuk kita, Tuhan?
Bella yang menyadari pertanyaannya ngga akan dijawab, hanya geleng-geleng kepala melihat Delia.
***
Kantin penuh dengan manusia-manusia lapar yang perutnya perlu diisi makanan. Mereka berdesakan, berusaha menjaga agar makanan yang dibawa tidak mengotori seragam orang lain. Delia dan Bella sedang menikmati hidangan mereka. Ralat, Delia hanya mengaduk-aduk pentol bakso dengan sendok, matanya bergerak liar menelusuri kepadatan kantin sekolahnya. Mencari sosok jangkung, bermata sipit tajam, beraroma manis, yang tadi sempat memanggil namanya, yup Percy. Mata Delia berkedip lebih cepat, berusaha memastikan cowok yang sedang duduk dibangku dekat pintu keluar bersama teman-temannya itu adalah Percy.

Jantung Delia berdegup cepat, ditariknya lengan Bella tanpa persetujuan terlebih dahulu. Bella yang tak tahu menau hanya mengikuti perlakuan Delia. 2 meter dari tempat Percy, Delia memperlambat langkahnya. Telapak tangan Delia sudah mulai berkeringat, gugup. 1 meter, Delia hampir mati menahan nafas. 0,5 meter, mata Percy menangkap sosok mungil Delia tetapi hanya sesaat, kemudian matanya berpaling lagi kearah teman-temannya. Delia dan Bella sudah melewati Percy dkk, hati Delia mencelos. Bukannya dia ngeliat gue? Percy ngeliat gue kan? Kenapa tanpa sapaan? Minimal senyuman? langkahnya terhenti, begitu juga dengan Bella. Kebingungan Bella bertambah sewaktu melihat wajah kaku Delia. Kenapa lagi ni anak? tanyanya dalam hati.Delia menempelkan tangannya didada kiri. Apa tadi pagi itu hanya khayalan? Apa dia memang ngga mau kenal gue? Tuhan, ini bukan awal tapi khayal.

to be continued

Dandelion Delia #1

Kamis, 08 Mei 2014

Dia mengintip. Memperhatikan gerakan tangan itu menekan tuts-tuts piano.
Dia menguping. Mendengar alunan nada indah.
Dia bersembunyi. Menghindar agar tak terlihat objek yang ia pandangi.

Delia sudah hampir satu jam mengintip dibalik jendela ruang musik sekolahnya. Dia tidak sedang melakukan misi, seperti detektif Conan. Dia tidak sedang mengintai barang berharga untuk dicuri. Dia hanya melihat cowok itu. Melihat secara diam-diam tentunya. Cowok yang akhir-akhir ini menghantui pikiran dan mimpinya. Pierce Sebastian, atau yang sering disapa Percy adalah cowok yang sekarang menjadi objek penglihatan mata Delia. Delia yang sudah jatuh cinta sebulan yang lalu ketika melihat Percy bermain piano saat pentas seni sekolahnya, nekat untuk mengintip Percy latihan setiap hari Selasa.

Belum bosan dengan keterpanaannya, Delia gelagapan ketika melihat badan tinggi Percy beranjak meninggalkan ruang musik. Dengan langkah tersandung, Delia bersembunyi dibalik lorong antara kelas dan ruang musik. Telinga Delia dapat mendengar bunyi pintu yang tertutup dan disusul suara langkah kaki yang menjauh. Delia menempelkan telapak tangan kanan didada sebelah kirinya. "Hhft.." desah Delia ketika merasakan debaran jantungnya yang telah kembali normal.

***
Rabu pagi yang cerah disambut ceria oleh cewek berambut hitam panjang. Delia melangkahkan kakinya mantap menuju kelasnya di XI IPA 1. Sejak sebulan ini Delia memang mempunyai penyemangat sekolahnya, siapa lagi kalau bukan Percy. Delia sadar, apa yang ia lakukan seperti seorang stalker tidaklah membuat mata sipit Percy yang tajam itu meliriknya. Tetapi ketika hati menuntut, otak pun tak bisa membantah. Langkahnya terhenti ketika melihat Percy keluar dari toilet laki-laki. Jantungnya berdegup semakin kencang ketika Percy berlari kecil melewatinya. Delia menutup matanya, tercium aroma parfum manis Percy yang sudah Delia hafal. Hidungnya masih ingin menghirup aroma itu, walaupun paru-parunya sudah terisi penuh. 

"Uhuk uhuk" Delia terbatuk ketika pundak kirinya ditepuk seseorang secara tiba-tiba. Badan Delia sedikit membungkuk menghentikan batuk yang melandanya.
"Lo engga apa-apa?" tanya sebuah suara yang Delia sangat-sangat dambakan. Percy's voice!
"UHUK.." batuk Delia bertambah parah, saking kagetnya dengan suara Percy. Kini tangan Percy menepuk pelan punggung Delia, mencoba mengurangi kadar batuk Delia. Setelah batuk yang tak diundang itu pergi, Delia dengan jantung berdegup lebih kencang, membalikkan badan menghadap Percy. Matanya hanya bisa menangkap dada bidang Percy, karena Delia lebih pendek dibandingkan Percy. Ia mundur selangkah agar dapat menatap wajah tampan Percy.
"Ini punya lo kan?" Percy mengulurkan telapak tangan yang berisi gantungan tas Delia.
"Oh! Iya" Delia mengambil gantungannya dengan gugup.
"Lain kali hati-hati ya--" mata sipit Percy semakin tak terlihat ketika melihat name tag yang ada di seragam Delia "...hm, Delia" ujarnya sambil tersenyum.
Delia terpaku. WHAT? Demi apa? Dia nyebut nama gue? Belum sempat Delia mengucapkan terima kasih, Percy berbalik meninggalkan Delia dengan keterkejutannya.

to be continued

Is That True?

Senin, 05 Mei 2014

Kita berteman
Diluar perkenalan, tanpa sapaan
Kita pernah bersama
Tanpa hubungan, disatu ruangan, menghirup udara yang sama
Kita berdekatan
Menghabiskan waktu berjarak langkah kaki

Aku menangkap jelas kemana matamu melihat
Aku merasakan getaran suaramu saat berusaha menyebut namaku
Aku memperhatikan tingkahmu saat kita berdekatan
Aku menikmati bahu kita yang tak sengaja bergesekan
Aku melihat bagaimana kulitmu bereaksi ketika temanmu menggodamu

Aku tidak tahu apa itu semua nyata
Aku tidak tahu apa yang aku rasakan sama seperti yang kau kehendaki
Aku tidak tahu apa itu yang dinamakan khayalan
Aku tidak tahu seberapa besar rasa imajinasiku
Aku tidak tahu cara membedakan fakta dan khayalan
Aku tidak tahu mengapa imajinasi ini begitu liar
Aku tidak tahu seberapa besar rasa percaya diriku

Benarkah matamu sering mencari keberadaanku?
Benarkah kamu gugup saat memanggilku?
Benarkah kamu sebegitu bodohnya untuk menormalkan tingkahmu?
Benarkah gesekan bahu kita itu secara tidak sengaja?

Apa itu keadilan?

Selasa, 22 April 2014

"Tuhan itu adil"
"Tidak ada yang sempurna"

Sesering apa gendang telinga kalian menerima respond dari kata-kata tersebut? Jarang, sering, atau sering banget? Apa kalian bisa jelaskan maksud dari kata-kata itu? Jangan bilang bahwa setiap manusia punya kekurangan dan kelebihan, maka dari itu yang disebut keadilan. ENOUGH, aku juga sering denger itu.

Coba bayangkan, seorang model cantik dengan tubuh langsing tak ada cacat disetiap kulit mulusnya, memiliki kehidupan yang berkecukupan, orangtua yang selalu harmonis, dan teman-teman yang setia menemaninya. Namun, hanya kepribadiannya menjadi masalah. Pemarah dan high class. Eh, apa kepribadiannya bisa dibilang "masalah" ? Atau "masalah" itu yang dinamakan kekurangan? Namun, kekurangannya tetap membuat model itu mempunyai banyak teman, dan kehidupan yang baik. Itukah yang dinamakan adil?

Coba bayangkan lagi, seorang siswi bertubuh over-weight, memiliki wajah buruk rupa, kehidupan yang melarat dengan orangtua yang buruk, dan dilecehkan teman-temannya. Namun ia memiliki kepribadian sopan, ramah, baik, dan tegar. Apakah kepribadiannya itu yang disebut kelebihan? Uh, malang.

You hate you get

Di dunia banyak berisi sesuatu yang kita nggak suka. Bahkan makhluk yang berbagi udara dengan kita juga bisa dibenci. Haters yang belum mengenal sosok artis yang dibencinya pun berapi-api untuk menjelek-jelekkan artis itu.

Nah, bagaimana jika sesuatu yang kita benci itu malah menjadi salah satu kewajiban kita? Sungguh menyebalkan, bukan? Salah satu temanku pernah berkata "Belum tentu yang kita enggak suka akan berdampak buruk bagi kita. Contohnya obat. Jika obat itu dapat menyembuhkan penyakitmu, se-pahit apapun itu akan berguna untukmu"

Jawaban yang bijak itu belum dapat merubah pikiranku tentang sesuatu yang aku benci. Apa kamu bertanya apa sih yang sebenarnya aku benci? Jika iya, sulit untukku mengemukakannya. Sesuatu itu sangat bertolak belakang dengan watakku. Sesuatu itu mengganggu ketenangan, merusak mood, membuat kepala seakan terpecah. Argghhhh!!!!! Mendeskripsikannya pun sudah membuat jari-jariku hampir menjebol keyboard laptopku.

Sesuatu yang dibenci tapi kewajiban
Kewajiban yang menuntut perubahan
Perubahan yang berbanding terbalik
Berbanding terbalik dengan apa yang kita inginkan
Menginginkan sesuatu yag dapat membuat kita nyaman
Kenyamanan yang tidak terdapat pada sesuatu itu
Sesuatu itu harus musnah
Musnah tak akan kembali dikehidupan

Kamis, 05 Desember 2013

Mata ini enggan berpaling
walau batin menentang
wajah itu seperti magnet
yang selalu berhasil menarik perhatianku
tetaplah kau begini
yang selalu menjadi objek pandanganku
jika nanti aku tak bisa melihat lagi
aku ingin kau yang setia melihatku
dengan segala kekuranganku
would you?

Because of Snowisty

Minggu, 17 November 2013

hai hai! aku mau mempersembahkan cerbung tentang RIO-IFY nih! nanti aku cicil satu persatu post-nya ya ^^

IFY POV
“Meeaaw….”
Suara kucing, pikirku. Segera aku melihat keluar jendela kamarku. Hujan lebat, kulirik sebelah kanan, tidak ada ! sebelah kiri, tidak ada ! ‘meaaw’ terdengar lagi! Mungkin… dibawah ! Benar dugaanku seekor kucing Persia yang memiliki warna bulu putih seputih salju dan mata kecokelatan sedang meringkuk kedinginan. “aaah… malang benar nasib kucing ini.” gumamku ,langsung ku angkat hewan lucu ini kekamarku.
          “Bibi …! Tolong ambilkan aku handuk kecil !” pintaku pada Bi Iyem. Tak lama kemudian Bi Iyem datang kekamarku membawakan sehelai handuk.
“Ini Non. Dari mana dapat kucing ini Non?” tanya Bi Iyem kaget.
 “Tadi aku melihatnya didepan jendela kamarku. Aku akan merawatnya sampai pemilik kucing ini datang” jawab ku sambil mengeringkan tubuh kucing ini.
“Oh begitu, ya udah. Bibi mau kedapur dulu ya Non” pamit Bi Iyem.
Aku hanya mengangguk. Kucing ini terlihat nyaman dipelukanku. Saat aku mengeringkan bagian lehernya, aku tertegun. Aku melihat seuntai kalung melingkar di leher kucing itu. Ada nama pengenalnya! S-N-O-W-I-S-T-Y SNOWISTY! Cocok dengan bulunya yang seputih salju, mata hitam bulat bening. Dalam dekapanku, kucing yang bernama Snowisty itu tertidur pulas. Aku pun tertidur sambil memeluknya.
***
Kicau burung terdengar merdu di gendang telinga. Bulir-bulir embun berjatuhan dari helai daun. Sinar mentari pagi menembus jendela kamarku, seakan ingin memberikan kehangatan dalam hawa dingin pagi. Aku membuka mata perlahan, berat rasanya. Snowisty masih tertidur pulas. Aku tersenyum simpul. Aku beranjak dari tempat tidurku, mandi dan bergegas sarapan. Sambil menggendong Snowisty yang sudah terbangun, aku menuruni anak tangga, memakai seragam SMA Blinta Pusaka, sekolahku.
“Pagi Ify sayang. Itu kucing siapa?” sapa mama. Ia kaget melihatku membawa seekor kucing yang nampak asing di rumahku ini.
“Pagi Ma… Kemarin malam aku nemuin kucing ini tersesat. Trus aku ambil aja. Nanti juga sang pemilik bakalan jemput Snowisty” jawabku sambil duduk di kursi. Snowisty tetap berada di pangkuanku.
“Snowisty namanya? Udah dikasi makan?” tanya mama.
“Iyap, ada nama dikalungnya. Belum ma.”
“Bi… Ambilkan susu dan cereal buat kucing ini ya” mama memanggil Bi Iyem.
“ Ayo, berangkat ma. Udah siang nih…” Aku berdiri dan meletakkan Snowisty di kursi.
*skip*
          Setelah 20 menit dalam perjalanan. Akhirnya gerbang SMA BP sudah ada dihadapanku. Aku mencium punggung tangan mama dan melesat masuk sekolah. Di koridor sekolah, banyak sapaan dari kaum adam. “Pagi Ify…” “Ify makin cantik aja nih…” dan sebagainya. Aku hanya bisa tersenyum ramah menanggapi sapaan mereka.
Author POV
“IFYYYYYY!!!!” Shilla,Via, dan Agni kompak menyapa Ify ketika sudah berada di kelas XI IPA-3 dengan suara lantang mereka.
“Apaan sih? Suara kalian udah mirip toa tau gak” Ify terkekeh.
“Ada hot news soalnya Fy!” celetuk Agni
“Iya, masih hangat, actual, dan terpercaya!” timpal Via sambil melirik Shilla.
“Apaan sih? Cepetan kasi tau gue! Penasaran nih!” Ify penasaran setengah mampus.
“Ada yang baru jadian nih!” Agni melirik teman sebangkunya, Shilla. Nampak semburat merah menghiasi pipinya.
“Lo jadian sama Kak Iel, Shill?” Ify terlonjak kaget.
“Iya,hehe” nampak Shilla semakin dibuat malu.
“Ada couple ada PJ dong!!!” ucap Via bersemangat.
“Eh, udah dulu. Ada Bu Mei nih!” Ify hanya tersenyum melihat salah satu sahabatku yang merah kayak kepiting rebus.
@Kantin
Ify, Via, Shilla, dan Agni memasuki mulut kantin SMA BP yang telah dihuni banyak siswa.
“Eh, kita duduk deket kak Iel aja yuk” ucap Shilla.
“Ciiieeeeeee….” Ify, Via, dan Agni kompak menggoda Shilla. Nampak pipinya memerah lagi. Sesampainya kami di bangku yang tengah dihuni C.R.A.G (Cakka, Rio, Alvin, Gabriel alias Iel)
“Eh Yel, pacar lo datang tuh” ucap Rio sambil menyenggol siku Iel.
“Shilla..sini duduk disamping aku” Iel menepuk bangku disampingnya pertanda mempersilahkan Shilla duduk. Ify duduk disamping Shilla. Agni duduk didepan Cakka sedangkan Via duduk di depan Alvin. Rico? Dia duduk di samping Alvin.
“Kak Yel, minta PJ dong” Ify memelas.
“Masing-masing 5ribu aja ya” Shilla terkekeh.
“Gak asyik lo” timpal Agni.
“Khusus buat Agni biar bang Cakka yang traktir” Cakka pun mengeluarkan gombalannya, Agni hanya mendelik.
“Iyaiya, pesen deh apa yang kalian mau. Nanti gue yang bayar” Iel akhirnya menyetujui.

“YES” serempak C.R.A dan SIVA girang.

*to be continued

Gara-Gara Cemburu

Kamis, 24 Oktober 2013

Halo *lambai-lambai tangan ala MW* Hari ini aku mau tampilin cerpen super gaje! yaiyalah gaje, selesainya cuma 1 jam brohhhh! okelah, silahkan baca ya...


            Lelukan wajah tirus itu…
            Mata yang menatap dengan mata elang itu…
            Alis mata tebal yang menghiasi area matanya…
            Semua itu terasa sempurna untuk dipandang…
            “WOOOYY! Ngapain lo liatin gue gitu??!!” teriak seorang lelaki.
Nampak perempuan yang telah ketauan menatap lelaki tersebut gelagapan, ia mencari-cari alasan untuk mengelak.
            “Uhm… i.. itu ada upil lo mau keluar!” ia berlari secepat mungkin dari lelaki itu
            “ACHAAAA!!!! SIALAN LO! AWAS AJA LO!!!!” lelaki tersebut merasa dikibuli, ia keluar kelas untuk mengejar teman sekelasnya.
            “Sini aja kalo lo bisa nangkep gue, Rico jelek weelllkk…!” gadis bernama Acha itu menjulurkan lidahnya menantang Rico.
            Yah, mereka memang selalu dilingkari balutan canda tawa. Sosok Acha yang periang itu selalu membuat geram seorang Rico
***
            Malam minggu ini Acha menghabiskan waktunya di kamar. Berbaring di kasur yang empuk dan ditemani smartphonenya yang bermerk apel digigit. Ia tengah membuka situs jejaring sosial, twitter. Matanya berhenti pada satu obyek dilayar smartphonenya. Tweet dari salah satu teman sekelasnya
Rico @RicoNuraga 3m
Lo harusnya tau…
            Dengan antusias Acha me-RT : @Achalyssa: Gue udah tau gue itu cantik =)) “@RicoNuraga: Lo harusnya tau…”
            Sambil menunggu balasan mentionnya, Acha mulai nge-stalk akun twitter Rico. Ia kaget saat melihat tweet Rico dengan seorang perempuan lainnya: @RicoNuraga: Sama, gue juga kangen lo :* “@Sintaa09: Kangen berat!@Achalyssa:  ngen berat!juga kangen lo :* "lai nge-stalk akun twitter Rico. Ia kaget saat melihat tweet Rico dengan seorang pere
            Acha diam terpaku. Ia tak tau perasaannya saat ini. Cemburu? Jelas enggak, karna diantara mereka tidak ada hubungan yang special. Senang? Sangat tidak senang! Acha memiliki perasaan lebih ke Rico. Acha menghela nafas beratnya, berusaha melupakan perasaannya kini. Acha tak mau mengganggu hubungan Rico dengan pemilik akun twitter @Sintaa09 itu. Acha menutup jejaring sosial dan meletakkan HPnya di meja belajar. Metutup mata perlahan dan berdoa esok pagi lebih baik.
***
            Pagi ini, Acha melangkah gontai menyusuri koridor sekolahnya. Ia masih terbayang akan kejadian semalam.
Tiba-tiba ada yang mengagetkannya “WOY!”
            “RRIICOOOOO” latah Acha pun kambuh
            “Cieeeee… lo lagi mikirin gue ya?” Rico menaik-turunkan alisnya.
            “Diem lo!” Acha membentak Rico.
            Rico terdiam, tak biasanya Acha begini.

@Kelas XI-IPA1
Rico memandang Acha yang tengah membenamkan kepalanya dimeja. Rico mempunyai ide. Ia menghampiri dan duduk disamping Acha. “Acha sayaaangggg… pinjem PR MTK lo dong” dengan manjanya Rico memohon. Acha terbangun, ia menatap sejenak orang yang ada disamping kanannya itu. Ia mengambil sesuatu didalam tasnya. Sebuah buku persegi berwarna coklat ia sodorkan ke Rico tanpa mengatakan apapun. Lalu menatap kedepan mencari obyek apapun yang bisa diperhatikan. Ia tak mau menatap mata elang Rico. Alhasil, Rico pergi tanpa bicara apapun juga.

Rico P.O.V
            Pagi ini Acha tak seperti biasanya. Acha yang selalu periang, Acha yang selalu teriak-teriak gaje saat gue jailin, tak ada semua itu dipagi ini.
            Aku melihatnya sedang tidur (mungkin) dikelas. Lalu aku berniat meminjam PR MTK, modus sih. Aku menghampirinya, duduk disebelahnya.
            “Acha sayaaangggg… pinjem PR MTK lo dong” kataku.
Tiba-tiba Acha terbangun menatapku dengan kedua bola mata indahnya. Tapi tatapannya hampa, tak ada keriangan yang dulu. Ia merogoh sesuatu dalam tasnya dan memberikanku sebuah buku. Tanpa ada kata yang terucap dari bibirnya. “Huh… mungkin lagi PMS kali” pikirku. Lalu aku pergi meninggalkannya.
***
KRIIIINGGGGGG
Bel istirahat berbunyi. Sontak seluruh siswa penghuni SMA Bina Sastra bersorak senang. Segera berhamburan ke kantin. Tapi Acha tidak memiliki niat. Ia tetap menenggelamkan kepalanya dimeja. Putri, teman sebangku Acha mengajaknya ke kantin. Tapi Acha hanya menggeleng lemah. 10 menit kemudian, Acha merasakan ada sesuatu yang dingin menyentuh kulit lengannya. Ia terbangun, menoleh kesampingnya, ada Rico.
            “Halo cantik… lagi PMS ya? Nih, gue beliin KIRANT* buat lo” dia menyodorkan minuman perempuan(?). Sumpah, Rico dengan polosnya membeli minuman itu tanpa dibungkus plastic pula! Masih punyakah ia muka membawa minuman itu dari kantin ke kelas mereka? Entahlah…
            “Apa-apaan sih lo? GUE GAK PMS!!!” Acha membentak Rico.
            “Tuh, buktinya lo marah-marah gaje. Nih, gue bukain ya” Rico membukakan tutup botol minuman tersebut.
            “Lo budek ya? Udah gue bilang GAK ya ENGGAK!” kali ini Acha meninggikan intonasi suaranya. “Lo kasi aja @Sintaa09 biar gak marah liat lo sama gue berduaan!” Acha menambahkan caciannya. Rico terdiam. Mencerna kalimat-kalimat yang dilontarkan gadis manis itu. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Lalu pergi meninggalkan Acha.

Rico P.O.V
            Aku mendengar bunyi bel istirahat bagai bunyi alunan music surga. Baru aja aku mau ngajakin Acha ke kantin barengan, tapi dengan mendengarkan percakapan Putri dengan Acha aku mengurungkan niat itu. Aku berlari kecil menuju kantin. Aku membeli sebuah minuman wanita. “Berapa bu?” tanyaku pada pemilik stand minuman dikantin. Ibu tersebut mengerjitkan alisnya, menatapku aneh. “lima ribu dik” jawabnya. Aku memberikan uang tersebut lalu pergi.
            Sepanjang perjalanan, banyak menatapku dengan tatapan aneh. Aku melihat diriku, tidak ada yang aneh. Oh iya! Minuman kaum hawa itu lupa dimasukkan ke plastic. Plastic hitam tepatnya. Wajahku mulai memerah. Aku hanya berdoa sepanjang perjalanan, semoga saja pamor sebagai most wanted boy di sekolah ini tidak berkurang.
            Aku berjalan menghendap-hendap menuju tempat persemedian Acha(?) Ia masih sama dengan tadi. Aku menempelkan minuman itu ke tangannya. Ia menoleh kearahku.
            “Halo cantik… lagi PMS ya? Nih, gue beliin KIRANT* buat lo” dengan senyum merekah aku menyodorkan minuman itu.
            “Apa-apaan sih lo? GUE GAK PMS!!!” Acha membentakku.
            “Tuh, buktinya lo marah-marah gaje. Nih, gue bukain ya” Aku membukakan tutup botol minuman tersebut.
            “Lo budek ya? Udah gue bilang GAK ya ENGGAK!” kali ini Acha meninggikan intonasi suaranya. “Lo kasi aja @Sintaa09 biar gak marah liat lo sama gue berduaan!” Acha menambahkan caciannya. Aku terdiam. Mencerna kalimat-kalimat yang dilontarkan gadis manis itu. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Ternyata dia salah paham. Lalu pergi meninggalkan Acha.
***
            Acha sibuk melihat kiri dan kanan bergantian. “Duh… Pak Udin mana sih” gumam Acha sambil melihat arloji yang melilit di pergelangan tangannya.
“Tiin…” Suara motor dari belakang mengejutkan Acha.
“Sini, gue anter lo pulang” Rico menawarkan Acha dengan senyum manisnya.
“…” Acha tak merespon tawaran Rico.
Rico geram. Ia turun, lalu menaikkan Acha di ninjanya. Tak sempat Acha turun, Rico sudah dengan cepat menghidupkan mogenya dan melaju.
“Woy! Turunin gue! Berhentiin gak motor lo!” Acha memukul-mukul pundak Rico.
Rico hanya diam menahan tawanya. Dia mempercepat laju motornya. Sehingga Acha spontan memeluk Rico dari belakang.
Acha baru tersadar ketika jalur yang ditempuh Rico bukan jalur menuju rumahnya.
“Woy! Lo mau nyulik gue? Awas lo ya! Gue laporin ke Kak Seto!” Acha memaki-maki Rico.
“Kak Seto kan paman gue hahaah” kata Rico sekenanya.
Mereka berhenti disebuah rumah yang cukup besar.
“Yuk, turun!” Rico menarik tangan Acha.
“Lepasin!” Acha meronta sekuat tenaganya.
“Tenang aja, ini rumah gue. Gue gak apa-apain lo kok”

@Ruang Tamu Rumah Rico
“Lo duduk disini” Rico menunjukan sebuah sofa. Lalu menyusuri tangga.
Acha mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah bergaya klasik itu. Ketika mendengarkan suara “tap..tap” Acha spontan menoleh kea rah tangga. Kini Rico telah menuruni tangga dengan seorang perempuan cantik.
“Hai, kamu Acha ya?” tanya perempuan cantik itu.
“Iya”
“Rico sering curhat tentang kamu loh” wanita cantik itu tersenyum melihat Acha yang kaget setengah mampus.
Acha melirik Rico yang sedang terkekeh. Ia menatap Rico dengan tatapan penuh arti ‘LO HARUS CERITA’
“Acha sayang, ini nih pemilik akun @Sintaa09” Rico memulai dengan tawanya.
“Iya, aku kakaknya Rico dari Bandung. Rico tadi udah ngejelasin semuanya. Jadi, jangan cemburu ya sama KA-KAK” perempuan cantik alias @Sintaa09 menjelaskan dengan penekanan di kata “KAKAK”
Acha sungguh malu. Itu terlihat dari pipinya yang mulai memerah. Rico menghampirinya dan membisikkan sesuatu tepat di telinga Acha “Kena lo!” Rico berlari keluar rumah dengan tawa yang menggelegar. “Riiiicccoooooooo!!!!” Acha berteriak histeris dan berlari menyusul Rico.

@Halaman Rumah Rico
Acha berhasil menangkap Rico. Acha mulai melayangkan cubitannya dipinggang Rico.

            “Hahaha ampun… haha” Rico memelas dengan tetap ketawa (ah?)
            “Jahat lo!” Acha berhenti melalakukan penganiayaan itu (nahlo?)
            Rico menatap gadis manis yang tengah merajuk. Rico memeluknya erat. Acha kaget setengah hidup. Mereka terdiam.
            “Acha Alyssa Sifyani, lo mau gak jadi Mrs.Nuraga?” ujar Rico lembut sambil mengelus puncak kepala Acha.
            “Ogah!” Acha mendorong tubuh Rico yang sedang memeluknya.
            Rico terkesiap.
            “Gue maunya jadi Nuraga’s girlfriend dulu, baru jadi Mrs.Nuraga” Acha terkekeh.
            “Ah, gue kan bilang Mrs.Nuraga biar romantic” Rico mengacak-acak rambut mantan temannya yang telah menjadi pacarnya itu. Lalu dengan gerakan secepat kilat, Rico mengecup pipi Acha dan berlari.
            “Dasaarrr RICO MESUMMM!!!!” Acha mengejar sang pacarnya itu.

My Dream

Pukul 10:49 WITA blog ini secara resmi dibuka *jengjeng*
yah, ini sih blog ke-3. Tapi, karna ke-2 blog tersebut telah dilahap waktu ya kita tinggalkan sajalah.
hmm... untuk merayakan hari lahirnya blog ini, aku bakal nge-post sebuah cerpen. ini cerpen udah pernah masuk koran wiyata mandala, tapi aku post aja deh...
cekidot...


“Apakah kamu mau jadi pacarku?” tanyanya dengan tatapan penuh arti. “Aku mau” jawabku.
Kriiiinngkriiingkriing….
Tiba-tiba suara jam weker berbentuk gitar itu membangunkanku. Aarghh,tenyata hanya mimpi.Mengapa aku bisa memimpikan Dika,cowok paling populer disekolah, menembakku? Itu mustahil !!! Oh iya, jam berapa ini? Jam 06.30 !!! Aku kesiangan!!! Segera aku mandi dan mempersiapkan diriku untuk pergi kesekolah,dengan motor skuter berwarna putih,aku menuju Friendship Elementary School. Aku memang tidak pantas untuk bersekolah di SMA itu, aku bagaikan rumput liar diantara bunga-bunga yang cantik.Kalau tidak mengandalkan beasiswa, aku tidak akan dapat bersekolah disana.
Sesampainya disekolahku itu, pintu gerbang megah yang berwarna putih telah tertutup rapat. Aku memohon kepada petugas satpam agar aku diberikan kesempatan untuk diberi masuk, tetapi ia tidak menghiraukan permohonanku itu. Ketika aku membalikkan badan, tiba-tiba sesosok lelaki tinggi,gagah,keren,tampan berada tepat dihadapanku, itu Dika !!! “Pak, tolong buka pintu gerbang dan parkirkan motor gadis ini!” perintahnya kepada petugas satpam. Pintu gerbangpun dibuka, hal itu tidak mengherankan lagi, sebab Dika adalah cucu pemilik sekolah ini. “Ayo masuk !” ajaknya sambil menarik tanganku. Astaga, detak jantungku semakin cepat. “Hey,namamu siapa? Kelasmu dimana?” Tanya Dika sambil memberikan senyum manisnya.Dengan terbata-bata,aku memberanikan diri untuk menjawab pertanyaannya “A.. aku Ashley. Kelasku XII-I. Terima kasih telah membantuku, aku harus segera kekelas” lalu aku pergi meninggalkannya.
Saat istirahat, aku murid yang ‘kutu buku’ ini di suruh untuk membawakan buku-buku pelajaran yang tersisa ke perpustakaan. Buku-buku ini sangat berat, “Hey,mau aku bantu?” suara lembut yang aku rasa pernah mendengarkannya, menawarkan bantuan. Ah, dia Dika !!! “Um.. tidak perlu. Mengapa kamu ada disini?” jawabku. “Apakah aku tidak boleh berada disini?” “Eh,bukannya begitu, tapi, hmm.. anu..” “Haha, ayo kita ke perpustakaan !” sambil membawakan buku-buku. Di setiap langkah kami, banyak murid perempuan memandangku dengan tatapan yang sinis. Aku jadi merasa tidak tahu malu berada disamping Dika.
Sore hari ini, aku termenung di depan jendela kamarku. Meratapi nasib yang telah diberikan untukku. Sambil melihat cahaya redup senja menyinari awan di langit yang jingga. Pikiranku menuju seseorang yang ku kagumi, Dika. Setiap saat aku selalu memperhatikannya, walaupun dari jauh. Teringat akan semua kejadian yang ku lalui dengannya hari ini di sekolah. ‘tring..tring..’ nada message di HP ku berbunyi. Segera aku mengambil HP berwarna hitam yang terlihat jadul itu.
“hey Ashley,aku Dika.Masihkah kau ingat aku?Sedang apa?”
Dika??? Dari mana ia tahu nomerku??? Mana mungkin aku bisa melupakannya!!! Kembali aku sadar akan status sosial antara kita, aku harus tahu diri, bagaikan langit dan bumi. Aku akan mencoba untuk tak mengharapkannya lagi.
Udara pagi yang menyejukkan, sinar mentari memasuki kamarku melalui celah jendela. Embun di helai daun dan kicauan burung nampak memberikan semangat baru di hari ini. Kini,aku siap berangkat sekolah. Saat aku melewati koridor untuk memasuki kelas, aku tak melihat ada sepasang kaki sengaja menghalangi jalanku, dan akupun terjatuh. “Hahaha… dasar cupu !!!” suara tawa dan ejekan dari seseorang terdengar, ternyata itu Rio. Aku hanya bisa tersungkur dan menahan sakit di kakiku ini. “Ash, kau tidak apa-apa?” tanya Dika sambil membantuku untuk berdiri. “Aku tidak apa-apa” jawabku. “Dasar pecundang !!! Beraninya dengan perempuan saja. Pergi kau,dan jangan pernah menyakitinya lagi!” bentak Dika kepada Rio. Rio pergi meninggalkan kami berdua. “Kita harus ke UKS untuk mengobati lukamu, ayo..!” “Ti…tidak perlu, aku bisa sendiri. Aku mohon, jangan membantuku lagi. Terima kasih” tanpa menunggu jawaban darinya, aku pergi.
Hari selasa, hari sial bagiku. Pagi-pagi jam 04.00 aku udah bangun, mempersiapkan diri dan sarapan sampai jam 06.00 . Sekarang saatnya untuk berangkat sekolah. Udara masih dingin seolah-olah menggigit kulitku. Jalanan masih sepi, mungkin orang-orang pada malas untuk bangun dari tempat tidurnya yang empuk. Saat di pertengahan jalan menuju ke sekolah, sepertinya tidak ada yang beres dengan ban belakang sepeda motorku. Arrgh, ternyata memang benar hari selasa hari sial, ban ku pecah !!! Jam arlojiku menunjukkan pukul 06.10, mana mungkin ada tukang tambal ban, disekitar sini. Kalau aku pulang kerumah, bisa-bisa telat sekolah, kalau jalan ke sekolah motorku ditaruh dimana ? “Tiiin..tiiin” bunyi klakson mobil sport berwarna merah metallic dan pengemudinya yang terlihat cool memakai kaca mata hitam itu berhenti tepat di belakangku. Ia turun dan melepas kaca matanya itu, sekarang terlihat matanya yang kecil ditambah alis tebal dan rambut sedikit ikal itu ternyata Dika. Tatapannya yang tajam dihiasi seyum tipis di bibirnya itu membuat hatiku berdetak cepat. “Ban mu bocor kan? Aku antar kamu kesekolah ya?” “Enggak usah, biar aku jalan ke sekolah saja” tolakku. “Oke, aku ikut jalan denganmu ya?” aku tidak memberikannya jawaban dan langsung berjalan menuntun motorku. “Sudah.. sini aku yang bawa” lalu motorku dituntun olehnya “Makasih” jawabku singkat.
          Kulihat ia menelpon seseorang, sepertinya ia menyuruh orang itu mengurus mobilnya dijalan. Di perjalanan, hanya langkah kaki kami saja yang bersuara. “Ash..” katanya lirih, hamper tidak terdengar. “Apa..?” “Kenapa akhir-akhir ini kamu menghindar dariku?” “Ehm.. mungkin hanya perasaanmu saja” dustaku kepadanya. “Tidak. Aku yakin ini bukan perasaanku. Apa aku melakukan kesalahan?” jawabannya sambil menatapku. Aku hanya terdiam dan menundukkan kepalaku. “Baiklah jika kamu tidak ingin menjawab. Tapi kamu harus tau, bahwa aku cinta kamu Ash..” Deeg.. ! Serasa darah ini berhenti mengalir, detak jantungku mendadak terhambat sesuatu. ‘Aku juga cinta kamu’ jawabku dalam hati. “Apa kamu tidak mencintaiku? Jawab Ashley..” tanyanya lalu memegang tanganku. Tatapanku menuju pada tanah yang kupijaki ini. “Aku juga mencintaimu, Dika” dengan susah payah aku menjawab pertanyaannya itu. Dika nampaknya tersenyum lega.
          Sejak hari,menit,detik itu menjadi hari yang sangat membahagiakan. Ternyata mimpi itu menjadi kenyataan…

Aku hanya manusia yang tak sempuirna

Yang aku butuhkan kejujuranmu, bukan permainan
Aku sedia mencintai dan dicintai olehmu
Aku tak bisa memberikan barang berharga
Tapi aku akan memberikan ketulusanku untukmu